close

KLIK ARTIKEL DIBAWAH BERUNTUNG DAPAT BONUS!

Loading...
Loading...

Hal yang Paling ditakuti Nabi Muhammad Terhadap Umatnya Kini Benar-benar Telah Terjadi



Rasulullah SAW, sebagai Nabi akhir zaman begitu mencintai umatnya.

Bahkan, ketika ia meninggal pun yang ia pikirkan adalah bagaimana kehidupan umatnya setelah ia pergi.

Nabi Muhammad pun pernah menangis karena bagaimana umatnya kelak.

Namun kini, setelah sepeninggal Nabi Muhammad ada hal yang begitu ia khawatirkan akhirnya benar-benar terjadi.

Meski masih ada beberapa umatnya yang berpegang teguh dengan ajarannya.

Tapi ada beberapa yang tergelincir dan terlena.

Khususnya kepada dunia.

Kita tahu, memang Allah SWT memerintahkan untuk mencari penghidupan, bahkan sampai diumpamakan malam sebagai siang dan siang menjadi malam.

Tapi ada satu hal yang perlu kita ingat, Harta tidak dibawa mati, kecuali harta yang diamalkan.

Rasulullah sendiri juga menganjurkan kita dan menjamin akan banyaknya karunia bagi umat-umatnya yang bersungguh-sungguh dalam mencari harta untuk kehidupan diri, keluarga, dan membiayai dakwah di jalan-Nya.

Bahkan disebutkan, ada dosa yang...

BACA HALAMAN 2



Bahkan disebutkan ada dosa yang tidak terampuni kecuali karena lelah yang dirasakan oleh seseorang setelah seharian bekerja mencari nafkah.

Sayangnya, harta inilah yang paling dikhawatirkan Rasulullah SAW.

Rasulullah pernah menyebutkan satu kekhawatiran beliau kepada umatnya terkait harta dan cara menjemputnya.

Kekhawatiran ini diriwayatkan secara shahih oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih-nya.⠀

“Bukan kemiskikan yang aku khawatirkan pada kalian sepeninggalku, melainkan jika dunia dibentangkan pada kalian, lalu kalian saling berlomba memperolehnya hingga sebagian dari kalian memukul sebagian lainnya.”

Di zaman kita saat ini, kekhawatiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah terbukti.

Kaum Muslimin berebut mengejar dunia, padahal dunia ditinggalkan oleh para sahabat Nabi yang amat mulia dan merupakan generasi terbaik sepanjang sejarah umat manusia.

Jika para sahabat amat tak berhasrat dengan dunia, bahkan mereka langsung menghabiskannya di jalan Allah Ta’ala saat dikurniai banyak harta, sebagian kaum Muslimin justru mengeruk dunia melalui amalan-amalan akhiratnya.

Padahal para sahabat dulu sampai menangis sedih saat dikaruniai harta.

Mereka langsung mencari rumah dan mencari sebanyak mungkin orang miskin yang berhak menerima infaq mereka.

Bahkan, ketika Islam berjaya di masa ‘Umar bin Khaththab, saat perbendaharaan-perbendaharaan dunia dihamparkan kepada khalifah pengganti Abu Bakar ash-Shiddiq ini, beliau menangis karena ia tidak ingin terlena karena fitnah harta.

Namun tahukah, ada sebuah kisah hikmah yang layak ditelaah.

Bagaimana seorang pedagang kayu bakar menemani mayit saudagar kaya selama 40 hari.

Begini kisahnya

Alkisah seorang Konglomerat yang sangat kaya raya menulis surat wasiat: "Barang siapa yang mau menemaniku selama 40 hari di dalam kubur setelah aku mati nanti, akan aku beri warisan separuh dari harta peninggalanku."

Lalu ditanyakanlah hal itu kepada anak-anaknya apakah mereka sanggup menjaganya di dalam kubur nanti.

Tapi anak-anaknya menjawab, "Mana mungkin kami sanggup menjaga ayah, karena pada saat itu ayah sudah menjadi mayat."

Keesokan harinya, dipanggillah semua adik-adiknya. Dan beliau kembali bertanya, “Adik-adikku, sanggupkah diantara kalian menemaniku di dalam kubur selama 40 hari setelah aku mati nanti? Aku akan memberi setengah dari hartaku!"

Adik-adiknya pun menjawab, “Apakah engkau sudah gila? Mana mungkin ada orang yang sanggup bersama mayat selama itu di dalam tanah.”

Lalu dengan sedih Konglomerat tadi memanggil ajudannya, untuk mengumumkan penawaran istimewanya itu ke se-antero negeri.

Akhirnya, sampai jugalah pada hari di mana Konglomerat tersebut kembali ke Rahmatullah. Kuburnya dihias megah laksana sebuah peristirahatan termewah dengan semua perlengkapannya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang Tukang Kayu yang sangat miskin mendengar pengumuman wasiat tersebut.

Lalu Tukang Kayu tersebut dengan tergesa-gesa segera datang ke rumah Konglomerat tersebut untuk memberitahukan kepada ahli waris akan kesanggupannya.

Keesokan harinya dikebumikanlah jenazah Sang Konglomerat. Si Tukang Kayu pun ikut turun ke dalam liang lahat sambil membawa Kapaknya.

Yang paling berharga dimiliki si Tukang Kayu hanya Kapak, untuk bekerja mencari nafkah.

Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan area pemakaman, datanglah Malaikat Mungkar dan Nakir ke dalam kubur tersebut.

Si Tukang kayu menyadari siapa yang datang, ia segera agak menjauh dari mayat Konglomerat.

Di benaknya, sudah tiba saatnya lah si Konglomerat akan diinterogasi oleh Malaikat Mungkar dan Nakir.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Malaikat Mungkar-Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya, "Apa yang kau lakukan di sini?"

Aku menemani mayat ini selama 40 hari untuk mendapatkan setengah dari harta warisannya", jawab si Tukang kayu.

Apa saja harta yang kau miliki?", tanya Mungkar-Nakir.

"Hartaku cuma Kapak ini saja, untuk mencari rezeki", jawab si Tukang Kayu.

Kemudian Mungkar-Nakir bertanya lagi, "Dari mana kau dapatkan Kapakmu ini?"

"Aku membelinya", balas si Tukang Kayu.

Lalu pergilah Mungkar dan Nakir dari dalam kubur tersebut.

Besok di hari kedua, mereka datang lagi dan bertanya, "Apa saja yang kau lakukan dengan Kapakmu?"

"Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar, lalu aku jual ke pasar", jawab tukang kayu.

Di hari ketiga ditanya lagi, "Pohon siapa yang kau tebang dengan Kapakmu ini?"

"Pohon itu tumbuh di hutan belantara, jadi nggak ada yang punya", jawab si Tukang Kayu.

"Apa kau yakin?", lanjut Malaikat.

Kemudian mereka menghilang.

Datang lagi di hari ke empat, bertanya lagi "Adakah kau potong pohon-pohon tersebut dengan Kapak ini sesuai ukurannya dan beratnya yang sama untuk dijual?"

"Aku potong dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa sama rata", tegas tukang kayu.

Begitu terus yang dilakukan Malaikat Mungkar Nakir, datang dan pergi sampai tak terasa sekarang 39 hari sudah. Dan yang ditanyakan masih berkisar dengan Kapak tersebut.

Di hari terakhir yang ke 40, datanglah Mungkar dan Nakir sekali lagi bertemu dengan Tukang kayu tersebut. Berkata Mungkar dan Nakir, "Hari ini kami akan kembali bertanya soal Kapakmu ini".

Belum sempat Mungkar-Nakir melanjutkan pertanyaannya, si Tukang kayu tersebut segera melarikan diri ke atas dan membuka pintu kubur tersebut. Ternyata di luar sudah banyak orang yang menantikan kehadirannya untuk keluar dari kubur tersebut.

Si Tukang Kayu dengan tergesa-gesa keluar dan lari meninggalkan mereka sambil berteriak, "Kalian ambil saja semua bagian harta warisan ini, karena aku sudah tidak menginginkannya lagi."

Sesampai di rumah, si Tukang Kayu berkata kepada istrinya, "Aku sudah tidak menginginkan separuh harta warisan dari mayat itu. Di dunia ini harta yang kumiliki padahal cuma satu Kapak ini, tapi Malaikat Mungkar-Nakir selama 40 hari yang mereka tanyakan dan persoalkan masih saja di seputar Kapak ini. Bagaimana jadinya kalau hartaku begitu banyak? Entah berapa lama dan bagaimana aku menjawabnya."

Dari Ibnu Mas’ud RA dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, "Tidak akan bergerak tapak kaki anak Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara, yaitu umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan kemana dibelanjakannya, ilmunya sejauh mana diamalkan?" (HR. Turmudzi).(Candra Okta Della)

Subscribe to receive free email updates:

BACA ARTIKEL DIBAWAH BERUNTUNG DAPAT BONUS!

Loading...