Imam al-Junayd al-Baghdadi merupakan sufi besar yang masyhur keshalihannya. Muridnya banyak. Kharismanya tidak terbantahkan. Beliau merupakan sosok tabib hati yang lembut perangainya.

Suatu ketika, salah satu muridnya beranggapan telah menggapai kesempurnaan maqam dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, dia memilih untuk mengasingkan diri. ‘Uzlah.

Masuklah sang murid ke dalam salah satu sudut rumahnya. Mengambil posisi ibadah. Berdzikir kepada Allah Ta’ala sesuai dengan ilmu yang dia miliki.

Hingga suatu malam, datanglah seekor unta tepat di hadapannya. Sang murid terbelalak, tapi segera memahami saat ada sosok yang berkata, “Naiklah. Kami akan membawamu ke surga.”

Sang murid bergegas menaiki unta. Menuju ke sebuah tempat yang disebut sebagai surga.

Sesampainya di sana, sang murid mendapati suasana yang sangat menyenangkan dan menenteramkan hatinya. Bahagia tiada tergambar. Di sana banyak laki-laki tampan nan bersih, juga berbagai jenis makanan berupa segala jenis daging, buah-buahan, dan sayur-mayur.

Sang murid berada di surga hingga fajar. Keesokan harinya, dia terbangun dan sudah berada di mihrabnya. Begitu terus hingga masa yang lama.

Dalam sebuah kesempatan pertemuan, sang murid mengisahkan pengalaman spiritualnya itu kepada sahabat-sahabatnya yang lain. Sebagian mereka kagum. Namun ada yang berinisiatif mengisahkan hal ini kepada sang mursyid besar, Imam al-Junayd al-Baghdadi.

Imam al-Junayd pun mendatangi mihrab salah satu muridnya. Beliau melihat ke sekeliling dengan bashirahnya. Agak lama, lantas sang Imam...

LANJUT BACA HALAMAN 2 

Imam al-Junayd pun mendatangi mihrab salah satu muridnya. Beliau melihat ke sekeliling dengan bashirahnya. Agak lama, lantas sang Imam
 berkata kepada muridnya, “Jika malam ini engkau kembali dibawa ke sana, ucapkanlah sebanyak tiga kali kalimat La haula wa la quwwata illa billahi al-‘aliyyi al-‘azhim (tiada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah Ta’ala Yang Mahatinggi lagi Mahaagung).”

Malam harinya, unta kembali didatangkan. Sang murid naik ke atasnya. Sesampainya di tempat yang disebut surga, sang murid mengikuti saran dari Imam al-Junayd.

Seketika itu juga, semua yang berada di sana berteriak sambil berlari penuh ketakutan. Dan lokasi yang mulanya selayak surga dengan laki-laki tampan dan berbagai jenis daging, buah, dan sayurnya itu berubah. Sang murid tercengang saat mendapati dirinya berada di atas gundukan kotoran hewan dan di sekitarnya terdapat banyak tulang berserakan.

Demikianlah, sebab ‘uzlah bagi seorang murid adalah kebinasaan.